Sketsel Antik Art Nouveau

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Gaya Art Nouveau menggunakan banyak inovasi teknologi pada akhir abad 19. Pada desain yang sangat khas menggunakan garis-garis lengkung dan pola-pola organik seperti tumbuhan.

Gaya Art Nouveau terjadi pada tahun 1890 sampai 1905, memiliki kadar craftmanship yang tinggi.

Seni dekoratif yang diterapkan dengan standar keahlian tinggi bagi rancangan berbagai perabotan dalam kebutuhan sehari-hari.

Pada awal tahun 1900-an kaca warna masih harus diimpor dari Eropa karena belum ada pabrik kaca warna di Hindia Belanda pada masa itu.

Sinar yang menembus 'menari-nari' didalam kaca, terpantul indah tekstur dan warna yang dihasilkan sangat luar biasa. 

Elemen-elemen bergaya vernakular Belanda menjadi gaya bentuk yang tak lekang dimakan waktu.

Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.

Kompoisisi asimetrik serta pola yang berkelak-kelok pun menjadi ciri khas penandaa gaya ini. 

Kaki penyangga menggunakan metode pertukangan (craftmanship), dengan bidang kayu jati lebar, kokoh, tua dan cukup berat. Nuansa nostalgia pun terasa begitu kuat. 


Sebuah Jejak Kemegahan Gaya Art Nouveau...

Salah satu kelebihan sketsel bergaya Semarangan yang mempunyai ukuran P.167 cm x T.176 cm ini terletak pada originalitasnya, sehingga kita seakan terlempar ke awal abad ke 20.

Jika melihat desain, tampaknya gaya Indies berkembang di masa kolonial Hindia Belanda sekitar dekade 1903 an. Motif ini merupakan contoh hasil stilasi dari unsur alam yang berupa relung-relung tanaman seperti pakis atau paku-pakuan.

Walau sketsel antik bergaya Art Nouveau ini dibuat lebih dari 90 tahun yang lampau dengan cita rasa Eropa, namun masih sangat kokoh dipakai hingga masa kini.

Detail ornamen dan kaca warna motif menunjukan pekerjaan seni yang memerlukan kemampuan tinggi dan memancarkan keindahan abadi.

Tak salah rasanya bila orang bijak mengatakan a thing of beauty is a joy forever. Ya, sesuatu yang indah memang akan menjadi kesenangan yang abadi. Berminat memilikinya ?

Kursi Tamu Art Nouveau

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Art Nouveau dikembangkan oleh generasi seniman yang brilian dan penuh energi yang berupaya untuk mem-fashion-kan bentuk seni yang sesuai dengan zaman modern.

Dalam perjalanan waktu gaya perabotan Art Nouveau seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.

Gayanya yang rumit, namun terkadang menyimpan makna tinggi bagi setiap orang yang melihatnya.

Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.

Teknik pertukangan jaman kolonial, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.

Jika dilihat semua seperti tak berubah, original dan terawat baik. Marmer siletan P.100 cm x L.60 cm bisa masuk dalam segala style desain interior.

Motif organik garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim memperkuat kesan Art Nouveau dan terlihat glamour. 

Pola geometris sebuah sintesis dari budaya Eropa, yang nampaknya bertalian dengan tanda status sosial.

Ketegasan garis-garis struktur kayu itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya dan garis liuk yang feminim.

Simpel dan kuat desainnya, dapat dilihat dari penataan motif garis "tali air" yang seimbang.

Langgam masa lalu yang mempesona dan menarik, kini sudah sulit dijumpai.

Gaya Semarangan atau Art Nouveau kental dengan pengaruh Eropa, tak heran kalau seringkali terlihat mirip dengan gaya klasik. 


Jejak Kolonial Pada Perabot Bergaya Art Nouveau...


Sekian lama dijajah oleh Belanda, meninggalkan jejak yang tak pernah hilang, sampai sekarang. Salah satunya pada desain perabotan interior dan arsitektur. Gaya Semarangan atau Art Nouveau, demikian kita sering menyebutnya.

Koleksi ini memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa masa lampau. Dengan ciri bentuk yang tegas, elemen lengkung yang dikontraskan dengan garis lurus serta tetap dapat dijadikan sebagai
bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya.

Perabotan furniture masa lampau yang pernah menjadi ikon zaman tetap masih digemari. Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda.

Dengan model yang berkembang pada masa kolonial, menimbulkan suasana nyaman dan romantik membuat kursi tamu ini menarik hati bagi siapa saja yang melihatnya. Mau ??

Meja Rijstaffel Hindia Belanda

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Tidak hanya secara fisik dan visual semata, namun menjadi refleksi zaman yang masih tampak indah hingga sekarang. 

Dekorasi interior Kolonial "mencintai" tata letak yang luas, di mana setiap subjek dialokasikan ruang interiornya.

Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah koleksi yang tidak berubah selama 85 tahun, rasanya seperti terlempar ke masa silam.

Selain ergonomis, sudut sandaran punggung kursi menunjang kenyamanan.

Proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.

Kayu nya selalu pilihan. Semakin tua semakin berminyak, tanpa harus diberi obat khusus, kursi ini selalu mengkilap.

Koleksi ini masih memancarkan kilau yang mempesona keindahan dan kecantikannya, walau usianya tergolong renta.

Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.

Bentukan lengkung meja diameter 120 cm terlihat glamour, masih sangat kokoh dan tidak berubah hingga sekarang.

Nuansa Indisch sangat terasa dari segi bentuk yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.

Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.

Meja mempunyai struktur permukaan datar dan dasar yang terdiri dari tiga kaki bergaya Portugis sebagai penopangnya.

Dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas yang tampaknya sudah ada pada tahun 1915-an.

Foto ini menceritakan latar belakang sejarah budaya dibalik perabot mebel indah itu, untuk anak cucu kita kelak.


Perjalanan Panjang Meja Makan Rijstaffel...

Dalam kurun waktu 1905-1915, pemilihan perabotan rumah tangga meramaikan ekstravagansa masyarakat Indies. Era itu disebut sebagai masa keemasan eksotik Hindia Belanda.

Gaya desainnya merupakan simbol kemewahan pada jaman dahulu yang bisa diasosiasikan juga dengan simbol kemewahan pada jaman sekarang. Status seseorang ditunjukkan melalui kualitas perabotan yang dipakai.

Kedalaman nilai sejarah, kenangan, dan apresiasi membawa kesadaran untuk mengkoleksi meja makan dari masa lampau. Koleksi ini bisa mempengaruhi suasana rumah anda, juga memiliki kekhasan sendiri sekaligus memperlihatkan estetika.

Standing Vase Peranakan

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Melalui koleksi ini T.47 cm x Diameter 30 cm kita seolah diajak berkelana ke masa silam, menguak kehidupan masyarakat Tionghoa Peranakan masa lampau.

Nuansa China sangat terasa dari segi bentuk, ornamen dekoratif yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.

Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya, sebab membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya.

Dalam tradisi Cina juga terdapat makhluk bernama Liong sebagai simbol kekuatan alam. Pada umumnya makhluk ini dianggap memiliki sifat yang baik selama ia selalu dihormati.

Tampak jelas terlihat pembedaan gradasi yang timbul akibat efek iklim tropis yang berlangsung selama puluhan tahun.

Gaya oriental juga penuh dengan makna dan simbolisasi. Ini membuatnya semakin menarik. 


Jejak Rekam Perabotan Peranakan...

Struktur standing vase ini menarik, menggunakan bahan yang berkualitas tinggi. Bagaimana ceritanya sampai bisa masuk ke Jawa pun agak samar-samar. Mungkin dibawa oleh Luitenant der Chineezen atau para pedagang kaya raya.

Dengan penempatan yang pas, koleksi standing vase Tionghoa masa lampau ini bisa tampil prima di tengah ruangan anda dan juga berfungsi sebagai pelengkap interior ruangan yang bersifat dekoratif. Tertarik memilikinya ? SOLD OUT

Chinese Indonesian Heritage

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Pada umumnya papan liyan China Peranakan seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik.

Sepasang papan liyan kuno yang mempunyai ukuran P.94 cm dan L.105 cm ini punya standart kualitas sendiri. Nuansa nostalgia China Peranakan pun terasa begitu kuat.

Bagi anda yang tidak terlalu memikirkan makna sebuah syair filosofis Tionghoa, memajang papan liyan bisa mempercantik tampilan ruangan. 

Dekorasi profil semuanya dilakukan dengan memahat langsung pada selembar permukaan bidang kayu jati bukan berupa tempelan. 

Nyatanya material papan kayu ini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.


Papan Liyan Antik: Eksotika Budaya Tionghoa...

Bisa juga dikatakan bahwa orang-orang Tionghoa masa kini adalah kepanjangan tangan dari komunitas Tionghoa pada masa lalu.

Koleksi sepasang papan liyan masa lampau tersebut memang tak berasal dari China, namun yang pasti pernah dipergunakan oleh keluarga China dan berusia puluhan tahun.

Koleksi sepasang papan liyan masa lampau ini merupakan jejak sejarah yang merekam bentuk eksotisme nilai paduan gaya tradisional Tionghoa di bumi Nusantara pada masa kolonialisme. SOLD OUT

Meja Cukur Marmer

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Dengan beberapa pengaturan sudut yang tepat, anda akan mendapatkan sebuah penempatan pajangan yang dapat dinikmati oleh setiap mata yang memandang.

Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya. Biasanya, perabotan berbahan marmer bisa menjaga suhu dalam rumah tetap sejuk.

Kesan klasik dan bentuknya yang unik cocok digunakan pada ruangan dengan gaya interior apapun sebagai centerpoint yang memukau dalam tataan interior.

Bentuk konstruksi meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa, model yang berkembang pada masa kolonial.

Tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan. Hingga kini, perabotan kuno semacam ini semakin menyusut drastis.


Merekam Sejarah Lewat Koleksi Meja Rias (Meja Cukur)....
 

Hindia Belanda memang surga bagi para tuan dan nyonya Eropa karena semua telah tersedia dalam berbagai macam bentuknya.

Mereka mendapatkan kemudahan dan juga membuat kehidupan mereka menjadi lebih santai dikarenakan pribumi yang terjajah.

Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, jika dilihat secara keseluruhan desain meja rias atau bisa disebut meja cukur bergaya kolonial ini sangat jauh dari kesan simpel.

Meja era Dutch East Indies memperkuat gaya sebuah interior, membentuk ciri khas, serta menciptakan sense of space ketika ada tamu yang memasuki rumah.

Mempunyai ukuran T.160 cm x P.71 cm x L.54 cm Dekorasi interior perabotan kolonial ini mengingatkan akan kamar seorang nonik Belanda pada masa lampau. Mau ??